KOTA BINJAI
I pc ipnu binjai I Sejarah I Science I On Abdillah Husni I Editor In R.Hsb I
-------------------------------------------------------
Untuk kecamatan di Kabupaten Langkat, lihat Binjai, Langkat.
Binjai adalah salah
satu kota (dahulu daerah tingkat
II berstatus kotamadya) dalam wilayah provinsi Sumatera
Utara, Indonesia. Binjai terletak 22 km di sebelah barat ibukota
provinsi Sumatera Utara, Medan. Sebelum berstatus kotamadya, Binjai adalah
ibukota Kabupaten Langkat yang kemudian dipindahkan ke Stabat.
Binjai berbatasan langsung dengan Kabupaten Langkat di sebelah barat dan utara
serta Kabupaten Deli Serdang di sebelah timur dan selatan. Binjai
merupakan salah satu daerah dalam proyek pembangunan Mebidang yang meliputi
kawasan Medan, Binjai dan Deli Serdang. Saat ini, Binjai dan Medan
dihubungkan oleh jalan raya Lintas Sumatera yang menghubungkan antara
Medan dan Banda Aceh. Oleh karena ini, Binjai terletak di daerah strategis
di mana merupakan pintu gerbang Kota Medan ditinjau dari provinsi Aceh.[4][5]
Binjai sejak lama dijuluki sebagai kota
rambutan karena rambutan Binjai memang sangat terkenal. Bibit
rambutan asal Binjai ini telah tersebar dan dibudidayakan di berbagai tempat di
Indonesia seperti Blitar, Jawa Timur menjadi komoditi unggulan
daerah tersebut.
Masjid di Binjai (1890-1894)
Pada masa silam kota Binjai disebut
sebagai sebuah kota yang terletak di antara Sungai Mencirim di
sebelah timur dan Sungai Bingai di sebelah barat, terletak di antara
dua kerajaan Melayu yaitu Kesultanan Deli dan Kerajaan Langkat.
Berdasarkan penuturan para leluhur, baik yang dikisahkan atau yang diriwayatkan
dalam berbagai tulisan yang pernah dijumpai, kota Binjai itu berasal dari
sebuah kampung yang kecil terletak di pinggir Sungai Bingai, kira-kira di
Kelurahan Pekan Binjai yang sekarang. Upacara adat dalam rangka pembukaan
Kampung tersebut diadakan di bawah sebatang pohon Binjai (Mangifera caesia)
yang rindang yang batangnya amat besar, tumbuh kokoh di pinggir Sungai Bingai
yang bermuara ke Sungai Wampu, sungai yang cukup besar dan dapat dilayari
sampan-sampan besar yang berkayuh sampai jauh ke udik.[6]
Di sekitar pohon Binjai yang besar
itulah kemudian dibangun beberapa rumah yang lama-kelamaan menjadi besar dan
luas yang akhirnya berkembang menjadi bandar atau pelabuhan yang ramai
didatangi oleh tongkang-tongkang yang datang dari Stabat, Tanjung
Pura dan juga dari Selat Malaka. Kemudian nama pohon Binjai itulah
yang akhirnya melekat menjadi nama kota Binjai. Konon pohon Binjai ini adalah
sebangsa pohon embacang dan istilahnya berasal dari bahasa Karo.
Dalam versi lain yang merujuk dari
beberapa referensi, asal-muasal kata "Binjai" merupakan kata baku
dari istilah "Binjéi" yang merupakan makna dari kata "ben"
dan "i-jéi" yang dalam bahasa Karo artinya "bermalam di
sini". Pengertian ini dipercaya oleh masyarakat asli kota Binjai,
khususnya etnis Karo merupakan cikal-bakal kota Binjai pada masa kini. Hal ini
berdasarkan fakta sejarah, bahwa pada masa dahulu kala, kota Binjai merupakan
perkampungan yang berada di jalur yang digunakan oleh "Perlanja Sira"
yang dalam istilah Karo merupakan pedagang yang membawa barang dagangan dari
dataran tinggi Karo dan menukarnya (barter) dengan pedagang garam di daerah
pesisir Langkat. Perjalanan yang ditempuh Perlanja Sira ini
hanya dengan berjalan kaki menembus hutan belantara menyusuri jalur tepi sungai
dari dataran tinggi Karo ke pesisir Langkat dan tidak dapat ditempuh dalam
waktu satu atau dua hari, sehingga selalu bermalam di tempat yang sama, begitu
juga sebaliknya, kembali dari dataran rendah Karo yaitu pesisir Langkat,
Para perlanja sira ini kembali bermalam di tempat yang sama
pula, selanjutnya seiring waktu menjadi sebuah perkampungan yang mereka namai
dengan "Kuta Benjéi".
Pada tahun 1823 Gubernur Inggris yang
berkedudukan di Pulau Penang mengutus John Anderson ke pesisir Sumatera timur
dan dalam catatannya disebutkan sebuah kampung yang bernama "Ba
Bingai"[7] Sejak tahun 1822, Binjai telah dijadikan
bandar/pelabuhan dimana hasil pertanian lada yang diekspor adalah berasal dari
perkebunan lada di sekitar ketapangai (pungai) atau Kelurahan Kebun Lada/Damai.[6]
Selanjutnya pada tahun 1864 Daerah Deli
telah dicoba ditanami tembakau oleh pioner Belanda bernama J. Nienkyis yang
mendorong didirikannya Deli Maatschappij pada tahun 1866. Orang Belanda
berusaha menguasai Tanah Deli menggunakan politik pecah belah melalui
pengangkatan datuk-datuk. Usaha ini ditentang oleh Datuk Kocik, Datuk Jalil dan
Suling Barat, sementara Datuk Sunggal tidak menyetujui pemberian konsensi tanah
kepada perusahaan Rotterdenmy oleh Sultan Deli karena tanpa persetujuan. Di
bawah kepemimpinan Datuk Sunggal bersama rakyatnya di Timbang Langkat (Binjai)
dibuat benteng pertahanan untuk menghadapi Belanda. Belanda merasa terhina atas
tindakan ini dan memerintahkan kapten Koops untuk menumpas para datuk yang
menentang Belanda. Pada 17 Mei 1872 terjadilah pertempuran
yang sengit antara Datuk/masyarakat dengan Belanda. Peristiwa perlawanan inilah
yang menjadi tonggak sejarah dan ditetapkan sebagai hari jadi Kota
Binjai. Perjuangan para datuk/rakyat terus berkobar dan pada akhirnya pada
24 Oktober 1872 Datuk Kocik, Datuk Jalil dan Suling Barat dapat ditangkap
Belanda dan kemudian pada tahun 1873 dibuang ke Cilacap.[6] Pada
tahun 1917 oleh Pemerintah Belanda dikeluarkan Instelling Ordonantie No.12
dimana Binjai dijadikan Gemeente dengan luas 267 Ha.[6]
Pada tahun 1942-1945 Binjai dibawah
Pemerintahan Jepang dengan kepala pemerintahan Kagujawa (dengan sebutan Guserbu)
dan tahun 1944/1945 pemerintahan kota dipimpin oleh ketua Dewan Eksekutif J.
Runnanbi dengan anggota Dr. RM Djulham, Natangsa Sembiring dan Tan Hong Poh.[6]
Pada tahun 1945 (saat revolusi) sebagai
kepala pemerintahan Binjai adalah RM. Ibnu dan pada 29 Oktober 1945 T. Amir
Hamzah diangkat menjadi residen Langkat oleh komite nasional. Pada masa pendudukan
Belanda tahun 1947 Binjai berada di bawah Asisten Residen J. Bunger dan RM.
Ibnu sebagai Wakil Wali Kota Binjai. Pada tahun 1948 -1950 pemerintahan Kota
Binjai dipegang oleh ASC More. Tahun 1950-1956 Binjai menjadi kota
Administratif kabupaten Langkat dan sebagai wali kota adalah OK Salamuddin
kemudian T. Ubaidullah Tahun 1953-1956. Berdasarkan Undang-Undang Daruat No.9
Tahun 1956 Kota Binjai menjadi otonom dengan walikota pertama SS Parumuhan.[6]
Dalam perkembangannya Kota Binjai
sebagai salah satu daerah tingkat II di propinsi Sumatera Utara telah membenahi
dirinya dengan melakukan pemekaran wilayahnya. Semenjak ditetapkan Peraturan
Pemerintah No.10 Tahun 1986 wilayah kota Binjai telah diperluas menjadi 90,23
km2 dengan 5 wilayah kecamatan yang terdiri dari 11 desa dan 11
kelurahan. Setelah diadakan pemecahan desa dan kelurahan pada tahun 1993 maka
jumlah desa menjadi 17 dan kelurahan 20. Perubahan ini berdasarkan Keputusan
Gubenur Sumatera Utara No.140-1395 /SK/1993 tanggal 3 Juni 1993 tentang Pembentukan
6 Desa Persiapan dan Kelurahan Persiapan di Kota Binjai. Berdasarkan SK Gubenur
Sumatera Utara No.146-2624/SK/1996 tanggal 7 Agustus 1996, 17 desa menjadi
kelurahan.[6]
Geografi[sunting | sunting
sumber]
Letak geografis Binjai 03°03'40"
- 03°40'02" LU dan 98°27'03" - 98°39'32" BT.
Ketinggian rata-rata adalah 28 meter di atas permukaan laut. Sebenarnya, Binjai
hanya berjarak 8 km dari Medan bila dihitung dari perbatasan di antara
kedua wilayah yang dipisahkan oleh Kabupaten Deli Serdang. Jalan Raya Medan
Binjai yang panjangnya 22 km, 9 km pertama berada di dalam wilayah
Kota Medan, Km 10 sampai Km 17 berada dalam wilayah Kabupaten Deli Serdang dan
mulai Km 17 adalah berada dalam wilayah Kota Binjai.
Ada 2 sungai yang membelah
Kota Binjai yaitu Sungai Bingai dan Mencirim yang menyuplai
kebutuhan sumber air bersih bagi PDAM Tirta Sari Binjai untuk kemudian
disalurkan untuk kebutuhan penduduk kota. Namun di pinggiran kota, masih banyak
penduduk yang menggantungkan kebutuhan air mereka kepada air sumur yang memang
masih layak dikonsumsi.
Batas
wilayah[sunting | sunting sumber]
Utara
|
Kabupaten
Langkat dan Kabupaten Deli Serdang
|
Selatan
|
Kabupaten
Langkat dan Kabupaten Deli Serdang
|
Barat
|
Kabupaten Langkat
|
Timur
|
Kabupaten Deli Serdang
|
Pemerintahan[sunting | sunting
sumber]
Kota Binjai terbagi atas
5 kecamatan yang kemudian dibagi lagi menjadi
37 kelurahan dan desa. Sedianya Binjai hanyalah sebuah kecamatan di
dalam lingkup Kabupaten Langkat. Lima kecamatan tersebut masing-masing adalah:
Binjai Kota
Binjai Utara
Binjai Selatan
Binjai Barat
Binjai Timur
Kecamatan Binjai Kota, Binjai Timur dan
Binjai Selatan baru dibentuk pada tahun 1981.
Kantor wali kota Binjai
Wali kota Binjai yang sekarang adalah
H.M.Idaham SH MSi dan Wakil wali kota Timbas Tarigan Amd yang dilantik pada
tanggal 13 Agustus 2010 untuk masa jabatan 2010-2015. Wali kota berkantor di
Balai Kota yang beralamat di Jalan Jenderal Sudirman No. 6, Binjai.
Kota Binjai sebelumnya merupakan tempat
bermarkas Kepolisian Resort Langkat yang mengurusi urusan kepolisian
Kota Binjai dan Kabupaten Langkat. Pada tahun 2001, Polres Langkat kemudian
dipindahkan bermarkas di Stabat, ibukota Kabupaten Langkat. Sedangkan
untuk Kota Binjai dibentuk Kepolisian Resort Kota Binjai (Polresta Binjai).
Tepat di depan kantor wali kota,
terdapat Lapangan Merdeka dan Pendopo Umar Baki di
Jalan Veteran. Lapangan Merdeka merupakan alun-alun warga Kota Binjai sedangkan
Pendopo Umar Baki adalah gedung serba guna untuk melangsungkan banyak acara
resmi maupun tidak resmi.
Demografi[sunting | sunting
sumber]
Kota Binjai merupakan kota multi etnis,
dihuni oleh suku Jawa, suku Karo, suku Tionghoa dan
suku Melayu. Kemajemukan etnis ini menjadikan Binjai kaya akan kebudayaan
yang beragam. Jumlah penduduk kota Binjai sampai pada April 2016 adalah 267.901
jiwa dengan kepadatan penduduk 2.961,86 iwa/km². Tenaga kerja produktif sekitar
160.000 jiwa. Banyak juga penduduk Binjai yang bekerja di Medan karena
transportasi dan jarak yang relatif dekat.
Perayaan Imlek di Vihara Setia Buddha,
Binjai
Agama di Binjai terutama:
Islam - dipeluk mayoritas suku Jawa
dan Melayu, masjid terbesar berlokasi di Jalan Kapten Machmud Ismail.
Kristen - dipeluk sebagian besar
suku Karo.
Buddha - dipeluk mayoritas suku
Tionghoa yang berdomisili di Binjai Kota dan Binjai Barat.
Hindu - ada 1 pura di Binjai
berlokasi di Jalan Ahmad Yani, agama Hindu dipeluk terutama oleh etnis India.
Perekonomian[sunting | sunting
sumber]
Daerah komersial dan pusat perekonomian
serta pusat pemerintahan terutama berpusat di wilayah Kecamatan Binjai Kota.
Kawasan perindustrian dipusatkan di daerah Binjai Utara, sedangkan di sebelah
timur dan selatan adalah daerah konsentrasi pertanian. Daerah pengembangan
peternakan dipusatkan di kawasan Binjai Barat. Kawasan Industri Binjai di
Kecamatan Binjai Utara direncanakan di Kelurahan Cengkeh Turi dengan luas
wilayah 300 ha. Binjai juga adalah penghasil minyak
bumi dan gasditandai dengan kawasan eksplorasi minyak bumi dan gas
alam di kawasan Tandam Hilir, Kecamatan Binjai Utara.
Data tahun 1999 menunjukkan
bahwa 29% dari total kegiatan perekonomian di Kotamadya Binjai bersumber dari
sektor perdagangan dan jasa. Sedangkan sektor industri menyumbang nilai 23%
dari total kegiatan perekonomian tadi. Pendapatan per kapita penduduk Binjai
adalah sebesar Rp. 3,3 juta, sayang angka ini masih berada di bawah rata-rata
pendapatan per kapita provinsi Sumatera Utara yang besarnya Rp. 4,9 juta.
Laju pertumbuhan ekonomi Kota Binjai
atas dasar harga tetap sebesar 5,68 persen pada tahun 2007. Hal ini menunjukkan
kenaikan yang cukup baik jika dibandingkan dengan tahun 2006 sebesar 5,32
persen.
Secara umum ada empat sektor yang cukup
dominan dalam pembentukan total PDRB Kota Binjai yaitu Sektor Industri
Pengolahan, Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran, Sektor Keuangan,Persewaan
dan Jasa Perusahaan dan Sektor Jasa - jasa
Bidang perkebunan tentu saja yang
menjadi perhatian adalah perkebunan rambutan yang mencapai 425 ha dengan
kapasitas produksi 2.400 ton per tahun.[8] Sayangnya, kapasitas
sebesar ini tidak dibarengi dengan modernisasi industri pengolahan rambutan
menjadi komoditi unggulan yang bernilai plus dibandingkan dengan hanya menjual
buah rambutan itu sendiri, misalnya industri pengalengan rambutan dengan jalur pemasaran
yang komplet.
Pusat perbelanjaan tradisional di Binjai
melayani penjual dan pembeli dari Binjai sendiri dan Kabupaten Langkat. Pasar
tradisional misalnya:
Pusat Pasar Tavip - merupakan pasar
tradisional terbesar di Binjai, lokasi di Binjai Kota.
Pasar Kebun Lada - berlokasi di
Binjai Utara
Pasar Brahrang - berlokasi di
Binjai Barat
Pasar Rambung - berlokasi di Binjai
Selatan
Pasar Trengganu - berlokasi di
Binjai Timur
Selain itu juga ada pusat perbelanjaan
modern seperti:
Binjai Supermall
Pusat perbelanjaan Suzuya
Mini Market Tahiti
Toserba Binjai Ramayana
Mall Ramayana
Pertokoan komersial yang lebih kecil
terutama terpusat di rumah toko (ruko) sepanjang Jalan Jenderal Sudirman, juga
ada Jalan Ahmad Yani (d/h Jalan Bangkatan) yang menjadi pusat makanan di malam
hari.
Pendidikan[sunting | sunting
sumber]
Sampai saat ini, jumlah sekolah umum
yang terdaftar di Pemerintah Dati II Binjai adalah 154 SD, 37 SMP,
9 MT, 31 SMU dan 10 MA, keseluruhan berjumlah 241 buah.
Jumlah penduduk usia sekolah wajib (di bawah 19 tahun) adalah 78.000 jiwa. Dari
total jumlah 241 buah sekolah ini, 85 sekolah di antaranya terletak di Binjai
Utara. Salah satu sekolah yang terkenal adalah Sekolah Swasta Methodist Binjai
yang masuk dalam 40 sekolah unggulan menurut majalah GATRA dengan judul
"40+ Sekolah Unggulan" untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional.
Transportasi[sunting | sunting
sumber]
Sarana transportasi di dalam kota Binjai
terutama adalah beca mesin roda tiga yang unik dan mobil angkutan umum yang
disebut sudako. Untuk transportasi ke luar kota, selain transportasi jalan, ada
juga kereta api yang menghubungkan Binjai dengan Medan dan Kwala di Kabupaten
Langkat.
Sampai dengan tahun 2007, prasarana
jalan di Kota Binjai terdiri dari[9]:
Jalan aspal 298 kilometer
Jalan kerikil 31 kilometer
Jalan tanah 91 kilometer
Letak Binjai juga tidak jauh
dari bandara terdekat yaitu Bandara Polonia, Medan. Selain itu,
pelabuhan terdekat juga akan dihubungkan dengan jalan tol Medan-Binjai.
Pada akhir tahun 2015, sistem Bus
Rapid Transit Trans Mebidang telah beroperasi di kota Medan, kota
Binjai, dan kabupaten Deli Sedang.
Pariwisata[sunting | sunting
sumber]
Kota Binjai berkembang dengan pesat dan
terus berbenah menjadi kota tujuan wisata. Sejumlah objek wisata alam atau
sejarah di kota ini, antara lain; Arum jeram Sungai Binge; Masjid Agung
Binjai; Pantai Sei Bingei; Tugu Perjuangan 1945; dan Vihara
Setia Buddha.
Telekomunikasi[sunting | sunting
sumber]
Kota Binjai dengan kode
pos 20700, saat ini mempunyai satu kantor pos induk di Jalan
Jenderal Sudirman dengan dua kantor pos pembantu.
Lain-lain[sunting | sunting
sumber]
Ikon kota[sunting | sunting sumber]
Tugu Perjuangan '45 di Binjai
Salah satu ikon Kota Binjai adalah Tugu
Perjuangan 1945 yang menjadi perlambang pintu gerbang Kota Binjai
menyambut kedatangan pengunjung dari luar kota.Tidak banyak yang mengetahui,
bahwa peranan Muhammadiyah di awal-awal kemerdekaan tahun 1945 sangat-sangat
dominan. Pengibaran sang saka Merah Putih pada tanggal 06 September 1945
bertepatan dengan 1 syawal 1365 H (Hari Jumat)dilaksanakan oleh Pengurus dan
Anggota Muhammadiyah serta masyarakat umum lainnya segera setelah menerima
telegram bahwa Republik Indonesia sudah MERDEKA.Pengakuan Pemko dalam hal ini
dapat dilihat dengan adanya tatengger di jalan Perintis Kemerdekaan. Selain
itu, sebelumnya Binjai juga mempunyai ikon lain yaitu tugu air peninggalan
zaman Belanda di Jalan Jenderal Sudirman yang sebelumnya digunakan untuk
menyalurkan air bersih ke rumah-rumah di dalam kota. Namun peninggalan
bersejarah ini beberapa tahun lalu telah digantikan dengan jejeran rumah toko.
Pintu gerbang ke Langkat[sunting | sunting sumber]
Binjai juga adalah salah satu tempat
transit bagi wisatawan yang ingin menuju ke kawasan wisata Bukit
Lawang di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser di Kabupaten
Langkatyang berjarak 68 km di barat laut Binjai. Bukit Lawang juga
merupakan daerah konservasi mawas Sumatera (orang utan merah).
Bentrokan TNI dan Polisi[sunting | sunting sumber]
Binjai pernah beberapa kali menjadi
objek perhatian nasional karena beberapa peristiwa di antaranya peristiwa
bentrokan anggota TNI dengan Polisi yang mengakibatkan
korban jiwa baik dari kedua belah pihak maupun dari sipil pada akhir tahun
2002. 2 unit yang bersengketa yaitu unit infanteri Lintas Udara
100/Prajurit Setia (Linud 100/PS) dari Kodam II/Bukit Barisan dan unit
elite Brigade Mobil (Brimob) dari Polda Sumatera Utara, hal ini
disebabkan oleh keoraganan dari pihak pihak yang melakukan penangkapan terhadap
orang yang diduga melibatkan anggota TNI, sebenarnya bentrokan ini dapat
diredam dengan perubahan sikap arogansi dari organisasi tertentu
Rumah sakit[sunting | sunting sumber]
Ada 7 rumah sakit besar kecil yang
melayani kebutuhan kesehatan penduduk Binjai yaitu:
RS Korem 023 Binjai
RS Umum Binjai (Dr. Djoelham)
RS Bangkatan
RS PTP IX
RS Bidadari
RS Umum Latersia
RS Umum Artha Medica
Pemakaman umum[sunting | sunting sumber]
Taman pemakaman umum di Binjai yaitu:
Pekuburan Brahrang, di Binjai Barat
Pekuburan Rambung, di Binjai Selatan
Perkuburan Kebun Lada, di Binjai Utara
Pekuburan Marcapada
Selain itu juga ada Taman Makam Pahlawan
Binjai yang berlokasi di Jalan Pahlawan, Kelurahan Pahlawan, Kecamatan Binjai
Kota.
Data kota[sunting | sunting
sumber]
Sunber : wikipedia-
